Laporan Iktikaf di Masjid Raya Habiburrahman

Jalan itu memang bukan jalan protokol yang banyak dilewati orang. Bukan pula jalan perumahan penduduk. Akan tetapi, jalan yang biasanya sepi itu mulai dipenuhi ribuan kendaraan. Maklum hari sudah sore. Karyawan (sisa) PTDI mulai berdesak-desakan meramaikan jalan raya tersebut. Ribuan. Ada yang menggunakan mobil. Banyak lagi yang menggunakan motor. Pemandangan kendaraan-kendaraan tersebut keluar area parkiran PTDI bagai semut yang keluar dari sarangnya membuat kita bertanya-tanya: bagaimana gerangan seandainya PTDI tidak bangkrut dan tetap jaya hingga sekarang.

Namun, yang memenuhi Jalan Kapten Tata Natanegara ini bukan hanya karyawan PTDI yang ingin bertemu keluarga setelah seharian bekerja. Sebagian kecil dari ribuan kendaraan yang lalu lalang menujukan setirnya ke sebuah masjid di depan pabrik tersebut. Masjid tersebut cukup terlihat megah. Kelilingnya dijaga oleh kanal air yang cukup lebar selayaknya kastil kerajaan. Parkirannya penuh padahal sangat luas untuk ukuran sebuah masjid. Di dalam area kanal air, pembagian area masjid yang sudah sangat fungsional itu pun dipenuhi orang. Ruangan utama. Pelataran teras tengah di belakang ruang utama. Teras sekeliling masjid. Halaman belakang. Semua disesaki manusia dengan agenda-agendanya sendiri dan satu tujuan. Iktikaf.

Di teras masjid terlihat anak-anak berkejar-kejaran. Ada yang berlari-larian melempar mainan bulu terbang-terbangan ke langit-langit teras masjis. Ada yang digandeng bapaknya. Ada yang masih perlu digendong dan disusui ibunya. Ada yang sudah duduk memegang mushaf Al Quran sendiri. Tenda-tenda keluarga memenuhi pelataran teras tengah di area belakang masjid. Ada pula tenda-tenda yang memberikan pelayanan dan fasilitas untuk jemaah masjid. Tenda pelayanan ini selalu ramai dikunjungi orang yang bertanya atau mencoba pelayanan yang ditawarkan. Di teras belakang dan halaman belakang masjid, dipenuhi penjual buku-pakaian dan penjual makanan. Siap untuk melayani seluruh aktivitas iktikaf 10 hari penuh.

Begitulah suasana sore di Masjid Raya Habiburrahman Bandung. Tidak seperti masjid-masjid kebanyakan, masjid ini sangat penuh pada masa-masa 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Mulai dari balita, bujang-gadis, hingga bapak beristri tiga dapat terlihat meluangkan waktunya  untuk singgah di masjid ini. Memfokuskan diri untuk ibadah. Padahal area sekitar masjid bukanlah area ramai penduduk. Jemaah biasanya datang bersama keluarga besar untuk menghabiskan hari-hari akhir ramadhan disini. Ada juga pesantren atau anak rohis datang beramai-ramai. Darimana datangnya? Entah dari mana-mana. Bahkan saya dengar banyak pula jemaah yang datang dari luar kota Bandung untuk menikmati iktikaf di masjid dirian PTDI ini.

Kebetulan tahun ini waktu ramadhannya beririsan dengan waktu libur dan waktu masuk kuliah. Yah, waktu yang membingungkan sehingga kepulangan mahasiswa ke kampung-kampung halaman tidak bisa berbarengan. Tidak seragam. Sulit diprediksi. Beberapa orang pun masih ada yang tinggal hingga waktu akhir bulan puasa ini. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang H-10 sampai H-7 lebaran sudah banyak yang cabut ke rumah masing-masing. Saya pun punya teman untuk keliling mencobai tarawih dan iktikaf di beberapa masjid di Bandung termasuk Masjid Raya Habiburrahman ini.

Berikut laporannya.

Kenapa Ramai?

Mulai dari pertanyaan mendasar. Mengapa begitu banyak orang yang rela jauh-jauh datang ke belakang bandara Husein Sastranegara, mencari Masjid Habib, dan iktikaf disana? Saya juga tidak tahu pasti tetapi saya bisa mengira-ngira jawabannya: ada beberapa faktor. 

Pertama, katanya masjid ini dibangun oleh PTDI [citation needed]. Anda sempat membayangkan suasana karyawan PTDI pulang kantor yang penulis deskripsikan di awal artikel? Bayangkan bagaimana saat PTDI jaya? Pasti sebagian besar karyawan adalah muslim dan mereka butuh tempat shalat khususnya saat hari Jumat. Masjid Raya Habiburrahman didirikan untuk memfasilitasi ini. Selayaknya masjid yang langsung berhubungan dengan perusahaan paling elit di zamannya, masjid ini pun bertalian erat dengan orang-orang hebat di perusahaan tersebut. Pengelolanya pun bisa dibilang bukan orang sembarangan. Dengan demikian, meskipun PTDI sudah tidak berjaya lagi, para karyawan yang sudah pernah merasakan huungan dengan masjid ini akan kembali pada saat-saat istimewa yakni saat bulan Ramadhan ini. Masjid Salman ITB pun demikian. Ibaratnya sama seperti alumni yang kembali ke sekolahnya lah.

Kedua, ibadah paket aktivis dan informasi yang menyebar. Masjid ini terkenal dengan layanan ibadahnya yang superb, tidak seperti kebanyakan masjid yang ecek-ecek. Shalat tarawih satu juz dibanding masjid-masjid lain yang jam delapan selesai. Ceramah yang membahas materi yang sangat menarik (bukan materi berulang-ulang itu saja seperti di masjid-masjid kampung) disertai dengan pembawaan yang syahdu. Pembawanya pun ustadz yang berkelas dan yang terpenting ustadz beneran, bukan selebriti. Shalat malam tiga juz. Paket-paket ibadah ukuran jumbo yang jarang ditawarkan masjid lain merupakan daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang serius menghabiskan waktu akhir Ramadhan untuk ibadah.

Ketiga, pelayanan yang istimewa. Paket-paket ukuran jumbo tadi didukung oleh pelayanan yang sangat memuaskan. Keluarga bisa survive di sini selama sepuluh hari tanpa harus pusing memikirkan mau cari makan dimana, menginap dimana, atau nyuci baju dimana. Semua sudah disediakan oleh panitia iktikaf Masjid Habib meskipun memang tidak gratis sih. Makanan sudah disiapkan panitia bagi yang memesan. Jika tidak puas dengan makanan bungkusan banyak, di halaman belakang masjid pun sudah berubah menjadi pasar makanan berharga murah. Murah serius beneran. Air putih tidak perlu dikhawatirkan karena tersedia bergalon-galon per hari gratis baik suhu panas maupun dingin. Memang tidak selengkap Masjid Salman yang sudah ada lengkap beserta teh dan kopinya, tetapi lumayan lah. Tidur? Bagi keluarga diharapkan menyediakan tenda. Bagi pelancong ya tidur saja di masjid atau teras masjid. Laundry pun tersedia untuk orang-orang yang berminat untuk tidak pulang selama 10 hari penuh.

Jadilah masjid ini penuh diisi oleh orang-orang yang serius beribadah.

Hal yang patut disebut adalah kesan saat mendatangi masjid ini. Kesan yang saya peroleh saat pertama kesini adalah ibadah yang saya lakukan selama ini sangat sedikit sekali. Betapa kurangnya ibadah saya. Pemandangan di dalam ruang utama masjid adalah orang-orang yang sangat tekun ibadah. Menjelang dan setelah shalat maghrib, orang-orang mulai menyibukkan diri dengan mushaf dan kitab masing-masing. Dan yang paling menimbulkan kesan tadi adalah adanya kelompok anak kecil kurang dari 10 tahun atau maksimal SMP, membaca Al Quran tanpa melihat ke mushafnya. Pandangannya ke atas. Jelas mereka sedang menghapal Al Quran. Lebih mencengangkannya lagi, halaman yang dibuka (tetapi tidak dilihatnya) tadi, adalah halaman-halaman awal mushaf. Memang masjid ini adalah tempat berkumpul para ahli ibadah.

Lihat anak-anak di pojok kiri-bawah gambar? Mereka sedang menghapal Al Quran.

Kegiatan Malam dan Sekitar Masjid

Shalat tarawih dimulai setelah shalat isya. Terkadang diantara isya dan tarawih diselingin taujih dari Ust. Abdul Aziz A. Rauf, Lc selama 20-30 menit. Shalat tarawih dilaksanakan sebanyak delapan rakaat empat salam tanpa shalat witir. Shalat witir akan disatukan dengan shalat malam nanti. Masing-masing rakaat tarawih berlangsung sekitar 5-8 menit. Total pelaksanaan shalat tarawih satu jam lebih sedikit. Jika ada taujih atau ceramah isya, shalat tarawih diperkirakan akan selesai pukul 21.15.

Setelah pelaksanaan shalat tarawih, jemaah dibebaskan untuk melaksanakan aktivitas mandiri. Beberapa menit setelah itu, ruang utama masjid biasanya sudah dipenuhi oleh gelimpangan orang-orang yang istirahat di bagian belakang dan orang-orang tilawah di depan masjid. Lampu masjid pun akan dimatikan (selain lampu di depan, dua shaf pertama dikhususkan untuk orang yang terjaga) pada pukul 22.00.

Jika lapar, waktu bebas tadi bisa dimanfaatkan untuk mencicipi pasar di halaman belakang masjid. Halaman ini cukup luas sekitar 30×30 meter dan dipenuhi oleh gerobak-gerobak makanan. Macam-macam: ada bakso, mie ayam, juz, batagor, gorengan, soto, dan nasi bakar. Ada juga sejenis perancisan alias warung yang lauknya ambil sendiri. Harganya cukup murah jika dibandingkan dengan area kosan atau kantin kebanyakan. Nasi goreng yang saya coba seharga Rp8.000,- memiliki porsi yang sangat banyak. Jus buah hanya Rp4.000,- Mie ayam bakso standar hanya Rp9.000,- Harga makanan perancisan seperti harga makanan pada warung tegal lah.

Di teras sekitar masjid bagian belakang juga banyak yang menjual buku-buku dan pakaian murah. Akan tetapi, yang biasanya ramai dikunjungi ya tenda pelayanan. Ada tenda pengobatan islami yang diadakan oleh Dompet Dhuafa Republika Jabar. Beberapa pengobatan yang ditawarkan adalah bekam, rendam detox, sebat rotan, dan gurah mata. Semua ditawarkan gratis. Dalam sehari, kata mamasnya bisa 27 pasien (belum termasuk akhwat) yang dilayani disana. Saya sendiri mencobanya dan itu bekam pertama saya. Hore! Mungkin, lain kali saya ceritakan bagaimana rasanya.

Shalat Malam Tiga Juz

Shalat malam alias qiyamullail dimulai pukul 00.30. Iya benar, setengah satu malam. Itulah mengapa pukul 21 lewat sedikit tadi sebagian jemaah sudah bergelimpangan untuk istirahat di ruang utama masjid. Tengah malam tepat, pukul 00.00 jemaah akan dibangunkan dan diminta untuk mempersiapkan diri untuk shalat malam. Bagi yang masih ingin tidur, dipersilakan untuk keluar ruang utama masjid. Kenapa? Ya karena ruang utama akan penuh sesak untuk shalat. Kalau mau terinjak-injak ya silakan tetap tidur di dalam.

Shalat malam dilaksanakan delapan rakaat empat salam kemudian dilanjutkan dengan witir tiga rakaat satu salam. Total pelaksanaan shalat adalah tiga jam tepat dari pukul 00.30 hingga pukul 03.30, maklum target yang akan dikejar adalah membaca Al Quran minimal tiga juz setiap malamnya.

Pada salah satu ceramah tarawih, Bapak Ust. Abdul Aziz Abdul Rauf Lc bercerita bahwa dahulu mereka sempat ragu untuk mengadakan shalat malam tiga juz ini. Pada akhir tahun 90-an, diskusinya cukup panjang. Apakah masyarakat akan gemar dengan shalat sepanjang itu? Akan tetapi, rencana tersebut direncanakan juga. Pertama, panitia memberi kita kepada jemaah untuk menyimak bacaan imam dengan melihat bacaan di mushaf Al Quran. Jemaah dipersilakan duduk jika tidak kuat.

Alhamdulillah, lama kelamaan ternyata animo masyarakat dengan shalat malam seperti ini tinggi juga. Lama-lama jemaah yang duduk pun berkurang. Tadinya kebanyakan anak-anak muda, lama-lama mereka malu juga shalat sambil duduk, kalah dengan yang tua-tua. Bahkan pada tahun 200an saat isu ambon, bacaan pada shalat malam sudah selesai pada malam ke 26-27 karena jemaah makin semangat. Dengan kata lain, pada waktu itu satu malam bisa menghabiskan empat-lima juz.

Pelaksanaan shalat malam yang paling lama adalah pada dua rakaat awal: sekitar satu jam atau lebih. Hampir separuh dari target yakni sekitar satu sampai satu setengah juz dihabiskan di dua rakaat ini. Jemaah pun paling banyak mengikuti pada dua rakaat awal ini. Setelah dua rakaat awal berakhir, sebagian kecil jemaah – sekitar dua shaf belakang – mengundurkan diri dan melakukan aktivitas masing-masing di luar ruang utama (juga dua-dua rakaat selanjutnya). Maklum, siapa yang tidak pegal lama berdiri seperti upacara bendera ini. Dua-dua rakaat selanjutnya dilaksanaan sekitar masing-masing 30 menit dengan pembacaan ayat sekitar setengah juz per dua rakaat. Biasanya pembacaan ayat dilakukan dengan pola beberapa halaman di rakaat pertama dan dua sampai tiga halaman terakhir di rakaat kedua. Setiap jeda antar dua rakaat, jemaah diberi waktu istirahat selama lima menit.

Jika dihitung, pelaksanaan tarawih berlangsung dua setengah jam. Dua-rakaat pertama 1 jam, tiga dua-rakaat sisanya 30 menit: total dua jam 30 menit. Nah, 30 menit sisanya, dari pukul 03.00 – 03.00 diisi oleh shalat witir. Pada shalat witir ini, imam tidak melanjutkan bacaan surat dengan target seperti pada tarawih tetapi imam hanya membaca surat “pendek” yang ada di Juz ‘Amma pada dua rakaat pertama dan surat Al Ikhlas pada rakaat terakhir.

Loh, entar dulu. Kok, witirya bisa setengah jam kalau gitu doang? Yang lama pada shalat witir adalah doa qunutnya. Pada waktu qunut, dibaca doa sekitar 15-20 menit sendiri. Banyak sekali doa yang dibaca pada saat ini. Karena saya lemah, tentu saja banyak doa yang saya tidak tahu disana. Yang jelas, suasana pada saat doa qunut ini sangat mengharukan.

Doa digunakan untuk bermunajat kepada Allah, untuk meminta sesuatu, meminta perlindungan, dan untuk menyerahkan diri bahwa kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan-Nya, tanpa hikmah-Nya, tanpa ridha-Nya dan kita banyak sekali berbuat maksiat tanpa sengaja atau bahkan dengan sengaja. Derau tangis dan isakan jemaah, terdengar hampir sepanjang doa pada saat qunut ini. Padahal imam membacakan doa dengan tegar dan lantang tanpa isak tangis menandakan isak tangis jemaah karena memang mereka merasakan makna doanya bukan karena terbawa oleh pembawaan imam.

Saya yang memang tidak begitu paham artinya tidak begitu terpengaruh dengan doa tersebut. Meskipun saya mengamini dan setulus hati berharap terkabulnya doa sang imam apapun artinya, logika saya berjalan: jika saya tidak tahu artinya bagaimana saya akan menangis. Suasana haru yang diiringi oleh suara ratapan jemaah hanya membuat saya sedikit (ikut-ikutan) menangis pada saat doa qunut tetapi logika tadi masih jalan. Hanya saja, yang saya heran, setelah doa qunut dan shalat subuh selesai, entah mengapa, saya seperti merasa lemah. Logika saya menentang tetapi hati terpecah seperti kehilangan seseorang yang dicinta. Tidak tahu karena apa, kehilangan apa, atau kesambet apa, tiba-tiba saya tidak bisa menahan tangis dan rasa ketidakberdayaan tadi. Merengkuk. Meratap. Mungkin suasana seperti inilah yang dirindukan oleh para jemaah sehingga mereka rela datang dari jauh-jauh untuk shalat malam di Masjid Habiburrahman ini.

Futuh?

Pemandangan shalat isya-tarawih-malam-subuh di masjid ini seperti pemandangan shalat jumat biasanya. Jika kita melihat ini kita pasti membayangkan, seandainya kebanyakan masjid memiliki jemaah shalat subuh yang seperti ini, pasti kebangkitan islam tidak akan lama lagi. Musuh-musuh islam di seluruh dunia akan takut. Kejayaan sudah hampir dalam jangkauan. Jika saja dakwah punya akhir, mungkin itu adalah salah satu tanda-tanda selesainya dakwah. Sayangnya masa itu masih belum dapat kita lihat, entah kapan bisa terwujud.

Apakah ini berarti dakwah sekitar Masjid Habib sudah futuh? Saya tidak tahu dan sepertinya belum. Pemandangan utopia di atas terjadi pada bulan Ramadhan, saya tidak tahu apakah di luar bulan Ramadhan juga seperti itu. Kemudian, ada beberapa hal yang perlu di catat mengenai Masjid Habib ini. Tepat di samping Masjid Raya Habiburrahman ini, ada masjid lain berwarna hijau. Saya tidak tahu masjidnya apa. Masjid hijau ini kata bapak penjual nasi goreng, dibangun lebih dahulu sebelum Masjid Habib.

Saat diajak menggabung masjid, kata bapak tadi, masyarakat tidak mau. Padahal Masjid Habib jauh lebih besar dan lebih berkualitas di berbagai aspek. Walaupun sebelahan, kedua masjid ini masih berfungsi hingga sekarang. Keberadaan Masjid Habib dan ramainya jemaah jauh yang datang beramai-ramai dengan mobil disini malah menyebabkan kesan eksklusivitas antara kedua masjid. Bapak penjual nasi goreng itu sendiri berkata “Masjid Habib kan yang ngisi orang kaya. Tapi ya bagus itu jadi orang kaya tetap sholeh”. Mungkin juga masyarakat sekitar tidak begitu gemar dengan ibadah shalat malam paket aktivis tadi sehingga mereka tetap bersikeras mempertahankan kegiatan masjidnya.

Ingat cerita saya tentang dua masjid yang bersebelahan dengan ego masing-masing? Ternyata kejadian ini terjadi disini. Hmm…

Penutup

Agenda iktikaf di Masjid Raya Habiburrahman ini memang bukan hanya ada pada malam hari saja. Pada siang hari, di waktu dhuha, dzuhur, dan ashar pun ada agenda sendiri. Misalnya tahsin atau tausiyah. Dengan demikian, jemaah yang menetap selama 10 hari terakhir Ramadhan disini tidak akan pernah mendapatkan waktu yang terbuang sia-sia. Sayangnya saya hanya mengikuti agenda iktikaf malamnya saya pada masjid ini sehingga saya tidak bisa bercerita banyak tentang agenda siangnya.

Bagi yang ingin merasakan iktikaf di Masjid Raya Habiburrahman, silakan ketik “Masjid Raya Habiburrahman Bandung” di halaman pencarian google niscaya peta lokasi masjid akan tertera di halaman pertama atau kunjungi tautan berikut Mesjid Raya Habiburrahman dan cari rute dari lokasi terdekat Anda. Recommended bagi keluarga dan kelompok ngaji Anda.

About these ads

4 thoughts on “Laporan Iktikaf di Masjid Raya Habiburrahman

    • Oh, pak rin belum pernah mencoba ya. Iya pak, harus mencoba. Asyik sekali nyoba disana (padahal saya baru dua kali). Banyak keluarga yang membawa keluarganya ramai-ramai disana. Fasilitas juga lengkap.

      • Saya udah 8 kali. 4 kali waktu bujangan, dan 4 kali dengan anak istri bawa tenda :)
        asyik pak Rinaldi. Ga usah nunggu tahun depan nyobanya lho pak. Tiap akhir bulan di minggu ke 4 juga selalu ada mabit rutin. Datang sabtu sore, selesai ahad subuh :) Qiyamullaylnya juga 3 juz.
        ikutan yuk pak. Nanti kita kenalan di sana ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s