Firasat, Keteguhan Hati, Doa, Istikharah, dan Ikhtiar

Kamis, 17 Mei 2012 merupakan hari bahagia bagi Mas Yulianto sesepuh kami di ADK angkatan 2008 dan mantan ketua ADK 2008. Dengan semangat menggebu-gebu kami serombongan sahabat kampus menyambut hari bahagia ini. Empat mobil dikerahkan menuju Cilacap. Sebenarnya katanya ada tujuh mobil tetapi yang tiga sampai kami pulang tak tampak batang hidungnya. Entah kemana rombongan anak matem itu.

Perjalanan cukup melelahan. Berangkat saat matahari membuka matanya, kami tiba di Cilacap saat dzuhur mengetuk pintu. Enam jam di jalan dan melewati jalur berlenggak-lenggok membuat saya terkapar saja.  Tiba-tiba sudah rehat sebentar di Masjid Raya Ciamis. Sisa perjalanan hanyalah tinggal sejarah saja.

Pesta walimah yang diadakan cukup sederhana, hanya menggelar tenda tarup di depan rumah tanpa diiringi organ tunggal. Akan tetapi, seperti walimah pada umumnya makan yang tesedia sangat menggugah selera. Saat mengambil jatag, semua menu dicicipi. Sayangnya karena isi perut sudah tidak ada, tenggorokan saya jadi trauma menelan makanan karena kelelahan, saya kurang nafsu makan jadinya. Hanya sampai teman-teman beranjak ke masjid lah saya bertahan memegangi piring makan saya.

Setelah salat jama’ dzuhur dan ashar, kami membuat forum ”interogasi”  dengan Mas Yul. Intinya ya menuntut untuk dikenalkan dan menanyakan bagaimana proses mereka dari awal. Forum dimoderatori oleh Gagarin Aditama, IF 2008.

“Istri saya Sugiasih ini dulu pernah satu SMA.”

“Pertama itu, saya mulainya dari firasat. Kayaknya yang ini nih jodoh saya…”

“Terus ya saya coba berdoa dan istikharah. Ternyata bener.”

Sebagaimana penonton yang menggebu-gebu kami, sangat reaktif dengan kata kunci – kata kunci yang disebut Mas Yul. Firasat, Doa, dan Istikharah.

“Jadi gimana tadi mas, firasat dulu. Terus istikharah.”

“Bukan bukan. Firasat dulu terus yakin mau maju nggak: keteguhan hati. Lalu doa dan istikharah.”

Peserta forum pun manggut-manggut kegirangan.

“Kalau dari mbak Sugi sendiri gimana mbak. Kok bisa-bisanya mau sama Mas Yul ini,” tanya moderator ke istri Mas Yul.

“Hmm… Gimana ya… Kepelet doanya mas yul kayaknya”, jawab mbak Sugiasih lugu. Seketika para hadirin forum pun tergelak.

“Nah, terus kita kan nggak bisa cuma doa aja nih mas. Bisa nggak diceritain gimana langkah riil nya nih…”

“Ya, ikhtiar. Berusaha terus lah.”

“Jadi mas, yang terakhir ini bentuk konkret ikhtiarnya gimana ya mas. Apakah menyiapkan dana dulu atau gimana mas. Biar yang disini bisa, eyaa..”

“Aduh… Yaa… banyak. Detailnya nanti kita buka forum di Bandung aja deh.”

“Ayo mas, dikit aja mas…”

“Ya, perbanyak silaturahim, ketemu orang tuanya saat lebaran, nanyain kabar. Begitulah. Lengkapnya nanti aja ya.”

Tentu saja memang bukan hanya itu ikhtiarnya. Mas Yul belum membuka seluruh rahasia yang dilakukannya. Penulis juga belum mengikuti forum interogerasi yang di Bandung. Kesimpulannya adalah dalam berjuang untuk melengkapi hidup ini kita harus melewati beberapa fase yaitu Firasat, Keteguhan Hati, Doa, Istikharah, dan Ikhtiar. Itulah tips & trik yang kami dapat dalam perjalanan ini.

Catatan kaki :

  • Dialog yang ditulis disini tidak 100% sesuai dengan keadaan karena tidak ada rekamannya. Penataan tempat dan kalimat dialog hanyalah improvisasi penulis.
  • Sebenarnya masih banyak cerita menarik dsalam perjalanan ini seperti saya yang “mabuk-mabukan”, debat Fikri dan Garin atas sebuah nama, percakapan di mobil, dan gotong royong hijau pada saat pulang. Akan tetapi, biarlah semua itu menjadi sejarah saja di dalam ingatan kita. 

Facebook dan Google+ : Perbedaan Hukum Asal Privasi

Privasi merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Menurut Paul Adam pada presentasinya yang saya ringkasi disini, justru privasi harus menjadi prioritas utama bagi pengguna umumnya dan perancang jejaring sosial pada khususnya. Kesalahan perancangan setelan privasi bisa membahayakan pengguna layanan kita atau bahkan memberikan rasa curiga pengguna terhadap sistem.

Privasi merupakan awal dari kepercayaan yang merupakan titik penting dari bisnis. Jika Anda membuat web bisnis dan perlu berkomunikasi dengan konsumen Anda atau antar konsumen perlu berinteraksi, pertimbangkanlah dalam-dalam masalah privasi ini. Tanpa ada privasi, tidak ada kepercayaan, kemudian tidak ada bisnis.

Penggunaan jejaring sosial yang tidak awas privasi bisa membuat bencana pada kehidupan nyata kita. Sayangnya, hal ini sering terjadi. Kasus nyatanya adalah saat salah satu mahasiswa ITB didemo karena “salah” mengejek salah satu suku di Indonesia pada dinding Facebooknya. Akhirnya dia diskors dan tidak jadi fast track langsung lulus gelar master. Dia tidak paham bahwa seluruh perkataan kita di jejaring sosial bisa menyebar kemana saja. Seperti yang dijelaskan oleh Paul Adam, ia adalah termasuk orang yang :

  1. meremehkan jumlah pemirsa dari kontennya, dan
  2. tidak mengira bahwa konten yang dibagi itu persisten

Hal ini dapat dipahami secara wajar karena dua hal di atas berlaku pada dunia nyata. Dalam dunia nyata kita bisa mengatur seberapa besar orang melihat/ tahu kita. Informasi yang kita aurakan juga cenderung bersifat sementara, bisa hilang. Tidak dalam dunia maya. Pos kita bisa dilihat seluruh dunia dan ada selama sistemnya ada. Terkecuali jika sistem layanan tersebut mendukung tingkat privasi yang tinggi dan terus mengingatkan penggunanya.

Contoh lain adalah saat saya melakukan Kerja Praktik di salah satu instansi di Bandung. Di sana saya menemukan berkas bertumpuk (di atas lemari di ruangan kerja) berisi bukti dan laporan beberapa mahasiswa yang diskors. Bukti berupa daftar tweet dan potretan layar. Isi tweetnya kurang lebih hanya sekedar keluhan terhadap sistem pendidikan atau kalimat lega karena sudah masuk liburan. Isinya kira-kira begini:  Continue reading

Jejaring Sosial Nyata (3 dari 3) ~ Privasi

Berikut adalah ringkasan ketiga dari slide presentasi yang berjudul The Real Life Social Network oleh Paul Adam (padday). Paul Adam adalah salah seorang enginer yang merancang Google+. Slide ini dipresentasikan pada Voices That Matter Web Design Conference, San Francisco bulan Juni 2010.

Ringkasan ini berfokus pada pentingnya privasi dalam jejaring sosial dan rendahnya pengetahuan orang tentang pesebaran konten di dunia maya.

Dalam slide ini, padday juga memperingatkan bahwa kita khususnya bagi pengembang web (layanan web apapun) dan pebisnis mau tidak mau harus bisa merancang bagaimana sistem jejaring sosial yang baik. Bagi kita para pengguna, slide ini juga berguna untuk memberikan pengetahuan tambahan bagaimana berjejaring sosial yang baik.


Privasi

Mengapa penting memberi orang kendali atas data mereka.

Privasi adalah proses pengelolaan batas. Hal ini berkaitan dengan mengendalikan seberapa besar orang tahu tentang kamu.

Konten publik tidak sama dengan konten yang dipublikasi. Orang bisa nyaman menyebar informasi ke setting publik satu tetapi tidak setting publik lain. Jika kamu menyebar informasi seseorang lebih besar sedikit dari yang ia harapkan, kamu bisa melanggar privasi orang itu. Sebentar lagi akan diberi contohnya.

Riset pada penggunaan Facebook menunjukkan hanya 8% dari pengguna membiarkan profilnya terbuka untuk dicari orang di pencarian Facebook. Kemudian, 64% dari pengguna mengeset profilnya menjadi “hanya teman”. Orang muda cenderung lebih peduli terhadap privasi dibanding orang tua. Kita sering berfikir orang tidak peduli dengan privasi karena tidak mau berurusan dengan pengaturan yang ribet. Padahal :

44% membatasi jumlah informasi personal tentang mereka di dunia maya
71% mengubah setting privasinya
47% menghapus komen tak diinginkan di profilnya
41% menghapus namanya dari foto

Kemudian,

orang meremehkan konsumen konten mereka.

Hal ini termasuk menulis sesuatu (termasuk status) yang bisa diindeks oleh mesin pencari, konsekuensinya konten tadi bisa dicari oleh orang.

Dalam dunia nyata, informasi kita hanya terbatas pada tempat kita berada. Hanya orang dengan jarak tertentu yang bisa melihat kita. Okelah orang juga menggosip. Akan tetapi, secara umum kita bisa mengatur seberapa besar gosip tersebut menyebar.

Dalam dunia maya, hal ini jauh berbeda. Kita kehilangan sifat dari dunia nyata tadi. Orang menulis konten secara publik tanpa tahu siapa yang akan membaca.

Pada masa kini mungkin saja status tersebut tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi, orang di atas tidak mempertimbangkan majikan masa depan yang mungkin memperkerjakannya. Ingin jadi polisi misalnya dan calon bos menemukan status di atas, bagaimana jadinya?

Tugas kita sebagai desainer, untuk memastikan bahwa orang mengerti apa yang terjadi.

Masalah ini adalah masalah transparansi. Sistem kita harus sangat transparan dan kritis dalam menangani hal ini. Orang harus diedukasi terhadap konsekuensi dari setiap aksi mereka dan kita harus berusaha sebaik mungkin untuk menjelaskannya.

Orang tidak sadar bahwa informasi mereka persisten

Ketika kita menggosipi orang, lalu orang itu datang, kita berhenti menggosip. Gosip tadi hilang. Akan tetapi jika gosip ini terjadi di Facebook, informasi ini akan ada selamanya untuk dilihat orang tersebut.

Bayangkan. Saat Anda umur 25 tahun, suami Anda menemukan bahwa Anda itu cewek sampah pada umur 17 tahun.  Continue reading

Jejaring Sosial Nyata (2 dari 3) ~ Pengaruh dan Identitas

Berikut adalah ringkasan kedua dari slide presentasi yang berjudul The Real Life Social Network oleh Paul Adam (padday). Paul Adam adalah salah seorang enginer yang merancang Google+. Slide ini dipresentasikan pada Voices That Matter Web Design Conference, San Francisco bulan Juni 2010.

Ringkasan ini berfokus pada hubungan manusia yang saling memengaruhi dan memiliki multi identitas.

Dalam slide ini, padday juga memperingatkan bahwa kita khususnya bagi pengembang web (layanan web apapun) dan pebisnis mau tidak mau harus bisa merancang bagaimana sistem jejaring sosial yang baik. Bagi kita para pengguna, slide ini juga berguna untuk memberikan pengetahuan tambahan bagaimana berjejaring sosial yang baik.


Pengaruh

Bagaimana orang berkomunikasi satu sama lain

Setiap orang memiliki pemirsa yang berbeda dalam komunikasi, juga terhadap setiap konten yang mereka miliki. Ada yang butuh dikomunikasikan ke sebanyak mungkin orang, ada yang orang tertentu. Ada kondisi yang butuh komunikasi satu ke satu, sedikit ke sedikit. Ada juga banyak ke banyak.

Bisnis perlu mempertimbangkan hal berikut dalam memilih kanal komunikasi pada pelanggannya :  Continue reading

Jejaring Sosial Nyata (1 dari 3) ~ Relasi Sosial

Ketika mendengar istilah jejaring sosial, kita langsung menghubungkannya dengan layanan web yang menghubungkan kita dengan orang lain. Pada dasarnya, jejaring sosial itu ada jauh sebelum internet ditemukan : ketika manusia bersosialisasi dan membentuk kelompok-kelompok.

Berikut adalah ringkasan dari slide presentasi yang berjudul The Real Life Social Network oleh Paul Adam (padday). Paul Adam adalah salah seorang enginer yang merancang Google+. Slide ini dipresentasikan pada Voices That Matter Web Design Conference, San Francisco bulan Juni 2010.

Ringkasan ini berfokus pada bentuk hubungan sosial manusia secara nyata dan bagaimana harusnya itu dirancang dalam web.

Dalam slide ini, padday juga memperingatkan bahwa kita khususnya bagi pengembang web (layanan web apapun) dan pebisnis mau tidak mau harus bisa merancang bagaimana sistem jejaring sosial yang baik. Bagi kita para pengguna, slide ini juga berguna untuk memberikan pengetahuan tambahan bagaimana berjejaring sosial yang baik.


Jejaring Sosial Nyata

Bagaimana orang terhubung satu sama lain dan apa itu artinya saat mereka daring.

Web mengalami perubahan mendasar

Web sebelumnya dirancang untuk saling menghubungkan dokumen antara satu dengan lainnya. Kemudian kita lihat web dikembangkan untuk memuat media sosial (social media). Kini kita lihat web berfungsi untuk menghubungkan orang satu sama lain. Orang tersebut kemudian membawa konten yang ia punya ketika berkunjung antara satu web dan web lain. Misal, kamu login sebuah situs berita dengan akun Facebook. Disana kamu akan muncul sebagai identitas Facebook dan profil serta jaringan temanmu ikut ke dalamnya.

Saat kita menggunakan mesin pencari, kita sendirian. Kita memperoleh jutaan hasil tetapi kita tidak menemukan orang lain. Tetapi perhatikan kita sering berbagi tautan (link) yang kita temu, kemudian membicarakannya dengan orang tersebut saat bertemu.

Kini, kita melihat interaksi sosial di pencarian. Orang-orang mulai memanfaatkan web untuk mencari informasi dari sesamanya, bukan dari bisnis lagi. Orang mulai mencari pendapat tentang suatu merk dari teman dan orang lain bukan lagi dari informasi “bisnis” yang diberikan. Seperti gambar di atas, entri pertama dan kedua adalah resep dari orang. Kentri keempat memiliki rating. Entri kelima barulah toko yang menjual banana split.

Orang kini lebih sering memanfaatkan web untuk berinteraksi dengan orang. Konsumsi kepada konten situs web mulai berkurang. Hampir setiap situs sekarang punya fitur sosial.

Pahami perilaku bukan teknologi

Kita menggunakan teknologi yang tidak ada beberapa tahun lalu. Ketika orang mendengar perubahan web, orang fokus terhadap teknologi. Perubahan yang cepat berarti merancang teknologi apa yang diperlukan selanjutnya. Akan tetapi, orang tidak peduli dengan teknologi. Mereka peduli dengan interaksi yang ditawarkan oleh teknologi itu.

Teknologi tidak mengubah cara kita berpikir. Jejaring sosial bukan hal baru. Sudah ribuan tahun orang berinteraksi satu sama lain, berkumpul menjadi grup-grup, menggosip, dll. Munculnya web sosial hanya berarti dunia maya itu mulai mengejar dunia nyata kita. Alat komunikasi kita mungkin berubah, tetapi cara kita berkomunikasi tetap sama polanya seperti ribuan tahun tadi.

Continue reading

Utamakan Ukhuwah : Dan Kisah Dua Masjid di Belakang Rumah

Ikhwah artinya bersaudara. Menurut Hasan Al-Banna, Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah. Ukhuwah adalah konsekuensi dari takwa dan merupakan salah satu bentuk ghirah kita terhadap agama.

Pembukaan : Utamakan Ukhuwah

Konsep ukhuwah dalam islam ini sangat tinggi. Level pergaulan sesama muslim itu seharusnya setingkat dengan level sahabat. Hubungan persaudaraan antar mukmin mempunyai pertalian yang sangat erat dan bisa lebih kuat dari persaudaraan karena keturunan. Hal ini disebabkan persaudaraan ini timbul karena adanya persamaan aqidah. Tidak seperti hubungan persaudaraan atau persahabatan lain yang biasanya timbul karena adanya persamaan kepentingan. Persamaan kepentingan itu bisa hilang. Ketika hilang, bisa saja yang tadinya sahabat itu saling mencaci. Persaudaraan atas persamaan aqidah islam – selama aqidahnya lurus – akan langgeng sampai akhir hayat.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah ikhwah (bersaudara); karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu”. [QS. al-Hujurat/49:10]

Yang terjadi di masyarakat kita sekarang ini adalah seringnya saling berseteru hanya karena masalah fikih. Yang satu mencap yang lain sebagai orang aneh atau bahkan ahli bid’ah. Padahal seringnya fiqih yang dipermasalahkan ini adalah masalah remeh atau dua masalah yang sebenarnya keduanya ada dalilnya. Tentu saja hal ini tidak bisa dibandingkan dengan masalah ukhuwah.

Saya pernah mendengar suatu cerita, entah benar atau tidak. Di suatu desa, dua kelompok warganya berseteru. Kelompok yang satu berpendapat shalat subuh itu pakai qunut yang lain berpendapat tidak. Masing-masing kemudian membangun masjidnya sendiri bersebelahan. (Wah malah bagus itu, berarti shalat subuh disana ramai dong, sampai bisa bikin masjid sendiri-sendiri)

Continue reading

Akar Konflik : Mengapa Islam Banyak Tertimpa Masalah?

Konflik yang Dihadapi Islam

Seperti yang kita lihat sekarang ini, Islam banyak sekali menghadapi masalah. Dia seperti diserang dari semua arah. Dari dalam ada banyak mahzab-mahzab yang orangnya, bukan mahzabnya, sering kali bertengkar satu sama lain. Partai-partai saling tidak mengakui satu sama lain. Orang islamnya sendiri pun banyak yang tidak berislam dengan benar. Rakyat banyak yang klenik. Dakwah ditolak. Bid’ah merajalela. Dari pinggiran, eh ada yang ngaku-ngaku jadi nabi. Penerus Muhammad lah. Jibril lah. Al Masih lah. Yah, saya sebut pinggiran karena mereka berlabel islam, berbentuk seperti islam, mengaku islam, tetapi pada dasarnya bukan orang islam. Mereka membuat agama baru. Dari luar islam, serangan banyak dilakukan. Ada Islam Liberal, berlabel islam, berbentuk bukan islam, dan dasarnya bukan menganut sistem islam. Ada lagi kelompok yang lebih jelas permusuhannya seperti yahudi dan anteknya. Banyak sekali musuh islam.

Islam kini merupakan sorotan dunia. Di luar sana, islam dicap teroris. Di beberapa negara yang mengaku demokrasi malah mendiskriminasi penganut agama ini. Namanya agak kearaban dikit, dicurigai. Beberapa kasus malah berusaha memusnahkan islam dari daerahnya. Penganiayaan, pembantaian. Konflik di timur tengah apalagi. Abadi. Gak ada habis-habisnya. Atas nama siapa? Ya atas nama islam.

Kasus-kasus yang sedikit beraroma islam juga dibumbui dengan bumbu yang memojokkan posisi islam. Sebagaimana artis yang lebih disukai berita jeleknya dibanding berita bagusnya, islam pun begitu. Jika ada kejadian bernuansa konflik yang dimotori islam, dunia akan bergerak. Pemimpin dunia mengkritik dan mengutuk. Berita pun dibuat seolah-olah kejadian itu merupakan kedzaliman yang dibuat oleh islam walaupun fakta yang terjadi berkebalikan. Kejadian yang paling nyata adalah kasus protes warga bogor terhadap pembangunan gerja ilegal beberapa waktu lalu. Jika ada kebaikan yang dilakukan islam, tidak akan ada yang tertarik meliput. Apalagi bila islam yang tertindas, dunia akan bungkam. Contoh jelasnya adalah kasus Marwa Al Sharbini, di Jerman 2009 silam, yang dibunuh di dalam ruang sidang saat dia menuntut orang yang menghina jilbabnya. Suaminya pun ditembak polisi saat menyelamatkan istrinya itu. Akan tetapi, mana ada pemimpin dunia yang angkat bicara.

Beberapa saat yang lalu juga dunia islam Indonesia digemparkan dengan kedatangan mahluk asing pembawa perubahan (katanya) : Irshad Manji. Lagi-lagi, islam gerah. Protes banyak keluar di sana sini. Diskusi pun dipaksa dibubarkan.

Banyaknya konflik ini membuat pertanyaan : kok bisa. Sehingga beberapa orang mulai berspekulasi : islamnya nih yang bermasalahContinue reading

Kepribadian Ganda : Dan Sekedar Laporan Pengamatan Perilaku Teman

Kepribadian Ganda atau bahasa kerennya Dissosiative Identity Disorder adalah penyakit psikis. Secara utama penyakit ini ditandai dengan adanya dua atau lebih kepribadian berbeda yang bergantian mengendalikan perilaku orang. Salah satunya biasanya kepribadian asli dari si orang tersebut. Terkadang DID melibatkan hilangnya ingatan saat terjadi pergantian pengendali. Meskipun begitu, tidak jarang kepribadian pengendali yang mengetahui atau bahkan mengenal kepribadian lain dalam satu tubuh tersebut.

Kepribadian Ganda katanya bisa muncul karena stress ekstrem atau trauma. Setiap kepribadian biasanya memiliki kemampuan untuk bertahan dalam situasi stress tertentu. Kondisi kepribadian ganda ini memang hal yang gawat dan sulit disembuhkan. Akan tetapi, kepribadian ganda yang ingin saya singgung kali ini bukan kepribadian ganda yang ini.

Manusia adalah mahluk multiperan. Setiap dari kita punya lebih dari satu status, sebagai mahasiswa, sebagai anak, sebagai ketua organisasi ini, dll. Dalam menjalani setiap perannya, sering kali manusia itu memiliki perilaku yang berbeda dalam satu peran dan peran yang lain.

Tidak hanya multiperan, menurut teori pertukaran sosial (Exchange Theory) manusia itu pada dasarnya adalah mahluk pengejar keuntungan. Manusia dalam berinteraksi mempertimbangkan untung-rugi. Dengan demikian, bisa saja seseorang seolah memiliki kepribadian ganda karena memberikan perilaku yang berbeda kepada satu orang dan orang lain. Misalnya saja seorang pedagang yang cuek saat pengunjungnya tampak miskin dan ramah saat pengunjungnya adalah orang bule.

Contohnya lainnya adalah seorang pelamar pekerjaan menjadi anggota dewan. Di awal surat lamarannya dia memberikan janji-jani yang seolah dia akan mengubah dunia. Setelah jadi anggota dewan, yah Anda tahu sendiri lah.  Terdapat juga Partai Senso yang adem ayem saja selama ini. Tiba-tiba beberapa bulan menjelang pemilu partai ini berubah menjadi partai masyarakat. Ia banyak mengadakan acara bakti sosial, penyuluhan ini dan itu. Padahal pada bencana alam yang terjadi agak jauh dari pemilu, partai ini tidak bergerak apa-apa.

Tentu saja hal ini adalah fenomena yang mahfum kita alami. Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena itu sudah menjadi sifat alami manusia. Kasus ekstrem di atas adalah cerminan dari kurangnya prinsip dalam kehidupan mereka.

Contoh paling sederhana sebenarnya dalam kehidupan kita sehari-hari. Tentu saja kita berperilaku berbeda antar satu teman dan teman lain bukan, tentu saja tidak seekstrem orang yang terkena DID atau kasus tinggi sebelumnya. Hal ini adalah hal yang paling wajar.

Disclaimer

Kelanjutan tulisan ini hanya berupa bahasan mengenai perilaku orang-orang di sekitar penulis. Memang penulis tidak memiliki maksud apa-apa dalam menulis hal tersebut. Akan tetapi, bisa saja orang tersebut adalah Anda. Jika begitu, apa gunanya bagi Anda? Anda kan mengetahui perilaku Anda sendiri. Jika yang tertulis ternyata salah, malah kemungkinan akan berefek buruk buat Anda kan. Bila orang tersebut bukan Anda, tentu saja hal tersebut tidak berguna bagi Anda. Belum lagi kalau Anda tidak kenal dengan dia. Tidak ada manfaatnya. Intinya :

Jangan baca kelanjutan tulisan ini. Atau baca dengan risikomu sendiri.

Continue reading

Teman Sejati: There is no such thing

Ketika melihat judul tentang teman sejati (jika tidak ada embel-embel lain di judul), Anda pasti mengira saya akan menulis kata-kata manis atau kata-kata puitis atau kata-kata penggugah atau kata-kata renungan tentang seorang teman. Tenang saja, saya tidak memenuhi kepala Anda dengan kalimat menyesakkan tersebut dan saya juga tidak ahli merangkai kata-kata seperti itu.

Sejati berasal dari kata dasar jati. Jika kita lihat di kamus KBBI daring, kita akan mendapatkan arti sebagai berikut.

ja·ti a murni; asli;
se·ja·ti a sebenarnya (tulen, asli, murni, tidak lancung, tidak ada campurannya):

Jadi apa maksud dari teman sejati? Padanan dalam bahasa Inggrisnya adalah real friend atau true friend. Semuanya dapat dimaknai menjadi teman yang sebenarnya.

Memangnya bagaimana teman yang sebenarnya? Menjabarkan teman saja kita sudah kesulitan, coba lihat tulisan saya sebelum ini Menjabarkan Pergaulan : Kenalan, Teman, Sahabat, dan Istilah Lainnya. Seperti yang tertulis dalam tulisan tersebut, istilah teman sendiri dipakai dalam lingkup yang sangat luas. Pada intinya, teman itu hanyalah orang yang pernah bersama dengan kita pada suatu hal dalam rentang waktu yang cukup, bisa tempat, kejadian, atau aktivitas. Baik orang yang memang akrab maupun cuma sekedar satu kelas, semua  Anda labeli dengan kata teman. Bukan begitu?

Dengan kata lain, teman sejati adalah orang yang setidaknya pernah bareng (minimal satu  kondisi apa pun, saat belajar, ngopi, atau nge-dota). Sedikit di atas kenalan yang sekedar kenal. Bayangkan Anda sering main dindong di Timezone suatu pusat belanja, kemudian sering bertemu seseorang. Setelah pernah main ding-dong bareng beberapa kali, jika ditanya siapa dia Anda akan menjawab: teman main dindong. Apakah dia bukan teman Anda? Tentu saja teman bukan. Teman beneran bukan, walau hanya dalam lingkup dindong. Itu artinya orang tersebut sudah termasuk teman sejati aka teman beneran aka bukan sekedar kenalan dong. Sama bobotnya dengan teman yang selalu rela membangunkan Anda untuk shalat subuh.

Itulah gambaran luasnya penggunaan kata teman dan susahnya menggarisi mana yang sejati dan bukan. Continue reading

Modus Operandi: Tabrak Mobilnya

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 2007. Saya dan keluarga sedang melakukan perjalanan dari kota Metro, Lampung ke kota Bengkulu, Bengkulu. Menjelang masuk kota Bengkulu kami melaju di sebuah jalan raya yang lurus. Waktu sudah menunjukkan pukul 22. Hari sudah gelap sehingga jalanan cukup sepi. Perjalanan Metro – Bengkulu memakan waktu sekitar 14 jam perjalanan. Seperti biasa, kami berangkat pada pagi hari sekitar pukul 7 pagi. Dengan demikian wajar saat menjelang masuk kota Bengkulu hari matahari sudah bersembunyi di dalam selimutnya.

Kami melaju dengan kecepatan sedang. Maklum hari sudah malam tidak bisa terlalu cepat meskipun kami sudah penat duduk berlama-lama di dalam mobil sewaan ini. Ingin rasanya cepat-cepat merebahkan diri di kamar panggung rumah nenek. Aku yang cepat lelah dalam perjalanan seperti biasa sedang tertidur ayap-ayap di kursi tengah mobil. Ayahku menyetir ditemani mengobrol oleh ibuku di depan agar tidak mengantuk.

Aku tidak melihat secara persis peristiwa ini. Hey, aku sedang hampir mabuk kendaraan dan kejadian ini berlangsung dengan sangat cepat.

Saat melaju dengan cukup santai, ayahku melihat motor dari depan yang berjalan tidak wajar. Lajur yang motor itu ambil terlalu kanan sehingga bisa dikatakan ia salah jalur. Kami juga hampir berada di sisi kanan lajur kiri jalan sehingga bisa dikatakan kami hampir di tengah jalan. Saat mobil kami dan motor tadi mendekat tiba-tiba, motor tadi seperti oleng dan bergerak ke arah kami. Tak pelak serempetan pun terjadi. Motor tersebut mengenai sisi kanan depan moncong mobil.

Continue reading

Benih Liberal di Sekitar Kita

Sudah mafhum bahwa gerakan sekularisme, liberalisme, dan pluralisme semakin gencar. Loh, darimana kita tahu? Ya ini kan zaman informasi. Berita banyak dimana-mana tentang penyebutan tiga paham ini. Bisa dilihat pula terjadi banyak pembelaan dan penentangan dengan tiga paham ini. Sebenarnya itulah yang mewarnai berita tersebut. Dalam keorganisasian, mereka bahkan sudah punya badan resmi tersendiri: JIL. Tentu saja kita mafhum mereka sudah dalam posisi menyerang.

Akan tetapi, sebenarnya bagaimana sih taktik tempur mereka? Bagaimana kondisi kita kalah? Apakah dengan menyerah dan masuk menjadi anggota JIL? Apakah dengan mengaku terang-terangan pluralisme itu oasis yang perlu diperlebar? Apakah dengan mendukung UU Feminisme?

Anda tahu ghazwul fikr alias perang pemikiran?  Sekularisme, liberalisme, dan pluralisme itu adalah sebuah paham dengan kata lain pemikiran. Ranah peperangan mereka bukanlah ranah fisik, bukan pula ranah media apalagi ekonomi. Medan tempur ada di dalam kepala anda, pikiran. Mari kita sama-sama merenung, bagaimana kita menyikapi hal-hal yang ada di sekitar kita. Terutama yang berkaitan erat dengan masalah sepilis ini. Apakah kita sudah mulai termakan dengan gagasan-gagasan mereka atau masihkah kita punya ruang gerak untuk bertahan?

Continue reading

Terbalik di Indonesia

Beberapa hal di Indonesia sepertinya tampak terbalik dibanding hal-hal yang seharusnya. Contoh sederhananya adalah saat ada orang yang ulang tahun. Ucapan selamat dan doa masih bisa dimaafkan lah. Doa kan hal yang baik walaupun tidak seharusnya hanya diucapkan pada hari itu. Akan tetapi, tradisi yang ada di sekitar kita ialah orang yang ulang tahun mesti mentraktir teman-temannya. Hmmm… Saya belum melihat hal ini terjadi di masyarakat luar, setidaknya sejauh film yang saya tonton.

Biasanya orang yang berulang tahun itu diberi selamat dan hadiah, setidaknya kue lah. Dengan demikian, orang yang berulang tahun itu berhutang budi kepadanya. Jika sang pemberi hadiah tadi berulang tahun, orang yang ia beri hadiah tadi kemungkinan besar akan ikut memberinya hadiah. Hari ulang tahun pun bisa menjadi hari yang berbahagia yang sebenarnya, bukan sekedar hari menjelang tua. Di lingkungan kita terjadi sebaliknya. Pengulang tahun mentraktir teman-temannya seolah-olah ia telah memenangkan suatu pertandingan. Mungkin ini karena sifat masyarakat kita yang cenderung opportunis kali ya.

Dalam hal teknologi informasi terdapat pula yang terbalik di Indonesia. Salah satu contohnya adalah ketenaran IRC (Internet Relay Chat). Pada permulaan Internet di indonesia, IRC sangat digandrungi oleh para pengguna Internet. Hampir setiap kamar warnet yang saya temui pada waktu SMP membuka mIRC sebagai aplikasi klien IRCnya. Meskipun saya tidak tertarik menggunakan layanan tersebut waktu itu dan mungkin sampai sekarang.

Continue reading

Hofstadter’s Law: A Hard to Escape Truth

Hukum Hofstadter sangat dekat bagi orang yang menangani pekerjaan kompleks atau proyek, termasuk kita mahasiswa, apalagi mahasiswa teknik informatika yang sedang mengerjakan TA. Mungkin anda pernah mendengar hukum Murphy - if anything can go wrong, it will. Sejiwa dengan hukum Murphy, hukum Hofstadter menyatakan bahwa :

It always takes longer than you expect, even when you take into account Hofstadter’s Law.

Pernyataan ini mengemukakan sulitnya memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan suatu pekerjaan kompleks. Hukum tersebut bersifat rekursif menggambarkan fenomena yang terjadi di mana-mana bahwa kita sulit menentukan kekompleksan suatu pekerjaan sekuat apa pun kita berusaha, termasuk mengetahui bahwa pekerjaan itu kompleks. Kalimat lainnya: hampir seberapapun kita memperkirakan waktu pengerjaan, waktu yang dibutuhkan pekerjaan itu untuk selesai lebih lama dari yang kita perkirakan, meskipun kita sudah memperhitungkannya (waktunya sudah ditambah dengan perkiraan delay).

Ilustrasi Penerapan Hofstadter's Law

Ilustrasi Penerapan Hofstadter's Law

This matter is strangely strikingly true, isn’t it? Terkadang kita di tengah jalan, kita baru sadar bahwa perkiraan waktu yang kita tentukan di awal ini konyol sekali. Contoh gampangnya saja lah, Anda pernah membuat ceklist atau to do list untuk esok hari. Pertama saat menulis kita yakin dengan seyakinnya hal itu bisa dilakukan esok. Pagi esoknya kita bisa tertawa melihat to do list tadi, karena betapa mustahilnya itu dilakukan. Contoh nyata lain adalah proyek pemerintah, pilih saja salah satu, terserah.

Continue reading

Sepilis: Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme (part 2/2)

Masalah liberalisme kian merebak di negeri ini. Jaringan Islam Liberal memposisikan diri sebagai lini depan paham ini. Secara terang-terangan mereka memasarkan ide mereka dan menunjukkan kebencian mereka terhadap islam. Banyak sekali contoh yang bisa kita cari ejekan-ejekan mereka yang semuanya tidak benar.

Sudah jelas nama islam yang ada di JIL tersebut hanya bertujuan untuk menyesatkan orang dan juga sebagai pernyataan perang terhadap islam. Hal ini disebabkan karena musuh utama bagi liberalisme adalah islam. Islam sebagai agama yang diridhai Allah memiliki seperangkat peraturan yang lengkap, mulai dari kita bangun tidur sampai kita bangun tidur lagi. Hal ini tentu saja bertentangan dengan prinsip liberal mereka, dimana mereka tidak ingin ada aturan apa pun yang mengekang mereka. Dengan demikian, islam lah yang jadi sasaran bagi utama mereka untuk mereka robohkan fondasinya dan sesatkan orang-orangnya.

Continue reading

Sepilis: Balas Dendam Para Peri (part 1/2)

Zaman dahulu kala, di suatu pojok barat dunia, terdapatlah negeri-negeri yang dihuni oleh para peri. Negeri-negeri ini diatur segala urusannya oleh istana Elifia sebagai kepanjangan tangan dari kerajaan langit. Istana ini memiliki prajurit perang yang sangat hebat dan kekuatan yang besar. Seluruh penghuni negeri tunduk dan menyembah kepada istana ini.

Continue reading