Travel Theme: Street Market ~ Pasar Simpang Dago Bandung

I tell you. There is no term as “street market” in Indonesia. Why is that? Because, taking half of the street or the sidewalk and change it to shopping center is everyday phenomenon here. Not only that, you can find such thing almost everywhere. By everywhere I mean almost on every road segment on the country. At least you can find one of the so called “Pedagang Kaki Lima” five feet merchant on a segment of a road. Well, not in a tool road and highway of course.

Pedagang Kaki Lima called like that because when Dutch still around, they instructed us to build five feet wide sidewalk for each street. Gradually over time, some merchant made their own shop on top the five feet sidewalk hence “five feet merchant”.

Because we can see it everyday, Indonesian doesn’t think a street market as something special. So, when we make vacation on some tourist site, we never think to take picture of street market there. I am no exception. Now, when Ailsa invited me to join her photo challenge this week, I regret that. Why I never think that street market can an interesting object.

Here, I share some pictures of Pedagang Kaki Lima street market near my lodgement. Dago street, Bandung. The market is well known as “Pasar Simpang Dago” dago joint market. 

Morning street market on Simpang Dago

The picture above is the morning part of the market. It provides traditional Indonesian food for breakfast. At night, this street will filled with other market that sell food for dinner. At the picture below, you can see one of the Pedagang Kaki Lima. He sells “Lumpia Basah”. It literally means “wet spring roll” which means spring roll without frying. It is one of Indonesia’s food. Lumpia basah made from bean sprouts and eggs and lumpia’s skin. It tastes good you know.


Continue reading

Sesuatu yang Sepertinya Menarik

Setelah beberapa hari menulis tulisan berupa laporan perjalanan (baca: jalan-jalan) dengan disertai sejumlah foto yang tak tanggung-tanggung, saya berniat untuk menggenapi tulisan satu minggu ini dengan tema serupa. Sayangnya, saya tidak mendapatkan wangsit untuk menulis hal tersebut. Ada perjalanan yang mungkin bagus tetapi kurang informasi dan foto yang terkait. Tidak ada fotonya tidak seru kan. Ada perjalanan yang punya banyak foto tetapi ceritanya biasa saja, tidak kepikiran narasinya, atau terlalu timpang ke kejadian tertentu. Sepertinya saya mengalami  kebuntuan penulis “writer’s block“.

But the show must go on.

Kalau tidak, bisa-bisa  blog ini bisa terlantar lama lagi.

Oleh karena itu, kali ini saya memutuskan untuk menyatukan beberapa foto yang diambil di sekitar Bandung yang saya anggap cukup menarik. Tidak semenarik itu sih sebenarnya, tapi ya apa boleh buat. Namanya juga lagi buntu. Saya harap teman-teman bisa menikmatinya.

Saya memulai dengan sebuah buku yang saya temukan di Gramedia. Maklum, lagi masa-masanya jadi saya dahulukan foto buku ini. Masa-masa tugas akhir atau lebih dikenal skripsi di sebagian besar perguruan tinggi. Buku ini menawarkan trik cepat menyelesaikan tugas akhir. 30 hari katanya. Untuk lebih meyakinkan lagi, lihat di sebelah kanan bawah, penulisnya adalah biro jasa penulisan skripsi. Dengan bangga ia menulis begitu. Miris sekaligus ingin tertawa saya. Apalagi setelah ada salah satu situs biro skripsi yang secara sengaja menyalin daftar makalah dari situs salah satu dosen saya. Cuma bisa berdecak-decak saja deh.

TA? Hmm.. Apa saya beli buku ini aja ya...

Continue reading

Killing the Holy Day

Emang Idul Fitri ada Bahasa Chinanya ya? (Gambar ditemukan di dekat Jalan AA)

Seperti yang saya janjikan, walaupun agak lama juga terlambatnya akan saya ceritakan rangkuman perjalanan tidak jelas keliling bandung ku di waktu di hari nan fitri (baca: holy day) yang lalu. Seperti yang telah kuceritakan, perjalanan ini dilakukan sekedar ngabuburit alias menghabiskan waktu liburan menghilangkan kebosanan dan beratnya liburan lebaran.

Continue reading

Paradigma terhadap Wanita (Bandung)

“Bandung lengkap euy. Barang-barang di Bandung cakep-cakep, murah-murah pula.”

“Gua benci sama wanita”.

Mungkin di antara kalian ada yang pernah mendengar untaian kata singkat dan aneh itu. Entah yang atas atau bawah, entah dimana? Apa hubungan keduanya hingga menjadi satu kompilasi posting? Mungkin tidak ada, kecuali judul posting yang mengeratkannya. Continue reading